Pengalaman Traveling Ke Medan, Bukan Kaleng-kaleng!!


pengalaman traveling ke medan ke rumah tjong a fie

Pengalaman traveling ke tempat wisata Kota Medan.

Rasa capek sedikit terobati saat ujung tol menandakan bahwa aku telah memasuki Kota Medan. Ah, long journey.. 2 hari perjalanan dari Padang, setelah menginap semalam di Sibolga, akhirnya sampai juga di Kota Medan. Keluar tol, suasana yang jarang kutemui di Padang, langsung menyapaku. Ya, macet!! Ah,, hal paling kubenci dari eksistensi sebuah kota besar. Saat kecil, aku memimpikan hidup di kota besar. Namun, setelah merasakan tinggal beberapa tahun di Jakarta, rasa-rasanya habitatku memang bukan kota besar.


Oke, lupakan tentang macet. Ada hal lebih penting menanti di Kota Medan. Di kota ini, banyak terdapat tempat-tempat yang menyimpan banyak sejarah yang merupakan tonggak awal berdirinya kota ini. Itulah yang jadi fokusku sekarang. Mengunjungi beberapa tempat ikonik yang akan menguak Kota Medan tempo dulu.

Awalnya, kukira Medan adalah sebuah kota yang hampir seluruh penghuninya adalah suku batak. Nyatanya, Kota Medan adalah salah satu kota paling multi-etnis di bumi pertiwi. Keberagaman ini tidak terjadi serta merta di era modern ini, tetapi jauh sebelum berdirinya kota ini. Sejak dahulu, berbagai etnis dan suku bangsa datang dan mencari penghidupan di tanah yang sekarang kita kenal dengan nama Medan. Sejak dahulu, di sini telah terjadi percampuran antara suku Melayu, Batak, Tionghoa, India, Eropa, dan bangsa-bangsa lainnya. 

Jangan lupa baca juga : Terpana keindahan Danau Toba Dari Berbagai Sisi
Istana Maimun

Pertama kali datang ke Medan, tentu wajib hukumnya mendatangi Istana Maimun. Istana ini merupakan istana Kesultanan Deli Serdang yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ma'moen Al Rasyid. Istana ini dibangun sejak tahun 1888 dan selesai pada tahun 1891. Saat ini, Istana Maimun telah menjadi salah satu ikon Kota Medan. Lokasinya strategis karena berada di tengah kota.

sisi depan istana maimun


Berbeda dengan istana pagaruyung di ranah minang yang arsitekturnya sangat minangkabau sekali, saat memasuki istana maimun ini, nuansa perpaduan arsitektur sangat terasa. Saat indra mata menangkap desain dari atap, lantai, perabotan, jendela dan warnanya, terlihat ada banyak unsur yang membentuk istana megah ini. Nuansa timur tengah pada atap, nuansa eropa pada lantai, jendela dan perabotan, dan dominasi warna kuning sebagai warna kebesaran suku melayu, melebur menjadi satu.


istana maimun

Pengalaman berkunjung ke istana maimun datang pada hari Sabtu, membuat suasana istana sangat ramai dipenuhi pengunjung. Tak mudah untuk berfoto dengan latar belakang singgasana raja. Lalu lalang manusia seperti tak henti-hentinya mengisi spot kosong pada frame foto. Ah, baiklah, sudah risikonya.

sewa baju adat di istana maimun

Beberapa orang tampak mengenakan baju adat atau baju kesultanan Deli. Mata mengikuti ke arah datangnya orang-orang berpakaian adat tersebut. Oh, ternyata di sudut kiri depan terdapat tempat penyewaan baju adat. Aku dan Ayu beserta tim dari GridOto segera menuju ke spot tersebut.

Beberapa setel baju adat dengan warna-warni cerah terpampang di etalase, menunggu untuk disewa bagi siapapun yang tertarik.  Aku dan Ayu memilih warna kuning emas yang mencirikan melayu itu sendiri.

Jangan lupa saksikan vlog Traveler Paruh Waktu jelajah Kota Medan

 
Rumah Tjong A Fie

Dari namanya saja kita sudah tahu bahwa ini adalah rumah dari seorang beretnis tionghoa.. ya, Tjong A Fie, seorang pengusaha, seorang kapitan, yang memiliki kekayaan yang mungkin tak habis sampai 7 turunan. 

 tjong a fie

Sosok Tjong A Fie patut dijadikan teladan oleh siapa saja yang sedang berjuang menuju taraf hidup lebih baik. Tjong A Fie memang seorang yang kaya raya, tetapi kekayaannya tidaklah datang dari warisan ataupun secara cuma-cuma. Kerja keras, keuletan, dan ketekunannya yang menjadikan dia menutup usianya dengan meninggalkan kekayaan yang sangat besar. 

Sama seperti sebagian besar kita, Tjong A Fie lahir dari sebuah keluarga sederhana. Tjong A Fie lahir dan tumbuh di Cina daratan sana. Menginjak dewasa, Tjong A Fie merantau menuju tanah sumatera. Di sana, kakaknya telah lebih dahulu mencari penghidupan dan telah memiliki posisi yang cukup terpandang. Namun, hal itu tak lantas membuat Tjong A Fie langsung memiliki posisi bagus. Tjong A Fie memulai semuanya benar-benar dari nol, dari pekerjaan yang mungkin dianggap remeh temeh. 

Seiring waktu berjalan, kegigihannya semakin membuahkan hasil. Perkebunannya sangat luas. Bisnisnya merambah ke sektor-sektor lain. Tjong A Fie pun menjadi sosok penting pada jamannya. Ia tak hanya kaya, tetapi juga merupakan sosok dermawan kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan golongan dan etnis. 

tjong a fie mansion

Selain istana maimun, aku juga mendapat pengalaman berkunjung ke rumah tjong a fie atau juga dikenal dengan nama tjong a fie mansion. Rumahnya ini adalah Salah satu peninggalan Tjong A Fie yang masih dapat kita lihat sampai sekarang. Rumah dua lantai ini menggabungkan beberapa arsitektur seperti Tionghoa, Melayu dan Eropa. Rumahnya besar dan mewah, apalagi kalau kita bandingkan dengan keadaan tempo dulu. 

Rumah ini memiliki 3 buah ruang tamu. Ruang tamu paling besar dengan arsitektur eropa disediakan untuk tamu-tamu dari Eropa khususnya para pejabat kolonial Belanda yang saat itu menggolongkan bangsanya sebagai bangsa kelas 1. Di sebelah kiri dan kanannya terdapat ruang tamu yang ukurannya lebih kecil. Ruang tamu sebelah kiri, dibangun dengan nuansa Melayu diperuntukkan untuk tamu-tamu yang datang dari Kesultanan Deli. Sedangkan ruang tamu sebelah kanan, dibangun dengan nuansa negeri tirai bambu diperuntukkan untuk tamu-tamu sesama etnis Tionghoa. 

rumah tjong a fie

Masuk lebih ke dalam, nuansa Tionghoa semakin kental. Beragam foto dan cerita tentang Tjong A Fie juga terpampang di beberapa sudutnya, termasuk foto keluarga Tjong A Fie beserta istri dan anak-anaknya. Foto dari Sultan Deli dan pejabat kolonial Belanda juga tak lupa ditampilkan, sebagai simbol kedekatan Tjong A Fie dengan orang-orang termahsyur di tanah Deli..

rumah tjong a fie

Banyak sudut-sudut instagramable di rumah megah ini. Tapi, jangan lupa perhatikan tanda-tanda di sekitar ruangan. Karena beberapa sudut atau ruangan, dilarang untuk dimasuki bahkan untuk difoto sekalipun. Mungkin karena lebih privat dan menyimpan peninggalan berharga.

Litle India

Terakhir, aku berkesempatan merasakan pengalaman berkunjung ke Little India. Tak hanya Singapura yang memiliki Little India, Indonesia pun punya, tepatnya di Kota Medan. Sungguh, ku baru mengetahui tempat ini ketika sudah berada di Medan. Little India, atau yang juga dikenal dengan nama Kampung Madras (dulunya dikenal dengan nama Kampung Keling), adalah suatu kawasan masyarakat India terbesar di Medan. 

kampung madras medan


Masyarakat India di Medan ini sebagian besar adalah orang-orang Tamil. Kenapa mereka bisa sampai ke Medan? Pada masa kolonial, sektor perkebunan di Sumatera butuh banyak sekali pekerja, sehingga Belanda membawa banyak pekerja dari berbagai wilayah, termasuk salah satunya dari India.

little india kota medan

Bagaimana kita tahu kalau kita sudah sampai di Little India? Tandanya adalah kita melewati gapura bernuansa India dengan tulisan "Little India" yang berdiri di beberapa ruas jalan.

Di sini, suasana India cukup terasa. Mulai dari pertokoan, orang-orangnya, serta yang tak boleh dilewatkan adalah Kuil Sri Mariamman. Kuil Hindu ini berdiri indah di tengah bangunan-bangunan lain di kampung madras. Kuil ini sangat tua, dibangun tahun 1881. Namun, keindahannya masih terjaga dan fungsinya masih dipertahankan sebagaimana mestinya. Terlihat dari ketika aku datang, nampak beberapa masyarakat keturunan India sedang melakukan sembahyang.. 

kuil sri mariamman medan


Sebetulnya, Medan mempunyai lebih dari 3 tempat itu yang memiliki nilai sejarah dan keberagaman Kota Medan. Namun, rasa-rasanya ketiga tempat itu pun sudah cukup mewakili bahwasanya Medan adalah sebuah kota yang ramah terhadap semua warganya tanpa membeda-bedakan etnis dan agama. Benar-benar sebua cerminan dari bhinneka tunggal ika yang sesungguhnya. Medan emang bukan kaleng-kaleng bro.. 



-----------------------
Berkunjung Oktober 2018
-Traveler Paruh Waktu- 




Previous
Next Post »

31 komentar

  1. walo orang medan, jujurnya aku blm pernah ke mansion tjong a fie :D. ya ampuuuun malu juga.. abisnya, aku ga lama tinggal di sana. cm 6 bulan pas smu. trus lgs pindah dan merantau k jakarta. jarang balik, kalopun balik, lbh seneng kulineran hahahaha. kapan2 lah kalo ke medan lg, bakal dtgin rumah tjong a fie.

    kalo istana maimun sih udah. tapi wkt itu aku ga pgn foto mas. kok pas aku dtg, koleksi bajunya agak debu dan bbrp ada yg robek. udh lama sih.. pas study tour smu . moga2 yg skr memang udh diganti kostum2 yg ga layaknya yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan biasanya gitu.. kota atau daerah sendiri malah jarang dijelajahi sementara daerah lain sudah khatam ahaha..

      pindah2 terus mbak fanny ini ya, pantes hobinya traveling :D

      klo kmrin sih kayanya udh bagus2 kok kostumnya.. jaman smu brpa tahun lalu itu ahaha..

      Hapus
    2. wkwkwkwwk aku smu di medan 1999 ;p.. lulusnya tp 2000.. :D.. baguslah kalo baju2nya udh bersih dan layak :).. soalnya kalo turis2 pasti seneng tuh pake baju adat begitu :)

      Hapus
    3. what? serius mbak lulus SMA thn 2000? Wooow, awet muda banget berarti.. aku kira kita seumuran (aku lulus 2007) ahaha.. daebak laah..

      Hapus
  2. Kereeennn

    Belum pernah sama sekali ke Medan
    Keluar Sumbar di sumatera juga baru ke Pekanbaru doang huhu

    BalasHapus
  3. mirip sultan dari Kelantan fotonya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan mirip lagi, memang sultan haha

      Hapus
    2. Permaisuri nggak diajak foto sekalian bang?

      Hapus
    3. Ah siap, btw kalo mau baju suku anak dalam, pake aja kain jarik dililit mas wkwkw... ga perlu sewa :p

      Hapus
    4. maunya yang otentik masbroo haha

      Hapus
  4. Aku juga pengen euy pake baju adat biar bisa foto di singgasana hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo aku mau pake cawat suku anak dalam hihi

      Hapus
    2. Aku juga
      Hahahah :D

      Malah aku punya kaul, loh ...
      Kelaaaak kalo suatu saat nanti kesampaian ke Papua, aku akan berfoto pakai koteka :)

      Hapus
  5. Wah ubay malah ke medan cuma explore kota tuanya aja hehehe

    Gk sempat ke istana dan masjidnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti next time harus ke Medan lagi Bay :D

      Hapus
  6. wah pasti seru jalan-jalan ke medan :D

    BalasHapus
  7. Waaa... aasiknya jalan2 sampai Medan. Kapan ya bisa sampai sana juga. Banyak yang bisa didatengi ya Mas di sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak,, ini aja karena waktu terbatas, ga bisa datengi semuanya.

      Hapus
  8. Kapan ya aku bisa traveling ke yg jauh gitu :(
    nasib jadi katyawan mah gini, nunggu libur panjaaanagg bgt baru bisa pergi keluar kota..
    btw medan bagus2 juga ya destinasinya, bikin mupeng dah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ada kesempatan gan.. saya juga harus nunggu libur atau cuti baru bisa jalan2 hehe..

      Hapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. kaleng kaleng itu opo bang? wkwkkwkw.
    aku pingin sekses jd pengusaha keren sampai 70 turunan lebih2 dari Tjong A Fie trs rumah kubangun macam istana Maimun :3 hyahahahhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton @maell_lee biar tau kaleng2 haha..

      aku juga pgn sesukses tjong a fie biar bisa beli pesawat jet haha

      Hapus
  11. Jd pngen ke Medan... Amiin

    Salam kenal... Salam blogger dri blogger Lombok 😊😊😊

    BalasHapus
  12. nyobain daging anjing pake sayur kol di rumah boru panjaitan gak bang? hahaha

    BalasHapus
  13. Dulu saat pulang dari Lhokseumawe, aku masih punya setengah hari di Medan. Tapi behubung nggak tahu medan kota Medan, aku jadi takut jalan-jalan pagi soalnya jarak ke bandara lumayan jauh. Jadilah aku harus merelakan Tjong A Fie huhuhu.

    Mesti balik lagi dan eksplor secara khusus kayaknya. Gak bisa sekadar numpang lewat :D

    Omnduut

    BalasHapus
  14. Istilah kaleng-kaleng itu apa sih, mas ?.
    Aku baru denger sekarang.

    Dari kesemua tempat ketje diatas, aku suka banget lihat tampilan dan sejarah rumah Tjong A Fie.
    Semoga kesampaian kesana :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...