Terpana Keindahan Danau Toba Dari Berbagai Sisi

danau toba tongging


Terlihat banyak pepohonan pinus yang terbagi menjadi 2 warna, hijau dan kemerahan. Jarak pohon-pohon itu tak terlalu rapat. Bukit hijau berundak-undak merelakan tanahnya menjadi pijakan pinus-pinus itu. Di bawahnya adalah sebuah danau besar yang menjadi aliran terakhir sungai-sungai di sekitarnya. Tampak beberapa air terjun setinggi ratusan meter turut menghiasi sekeliling kaldera bekas gunung berapi ini. Monyet dan Beruk mengemis makanan kepada kendaraan yang berlalu lalang. Di tengahnya terdapat sebuah daratan, yang penuh dengan rumah-rumah tradisional dan kaya akan budaya asli batak. Kambing, kerbau, sapi, dan babi dilepas begitu saja, tanpa ada rasa takut kehilangan. Ah danau toba, seperti ini toh wujudmu.


Danau toba merupakan danau yang sangat luas. Panjangnya mencapai 100 km dan lebarnya 30 km. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan danau vulkanik terbesar di dunia. 

Dari berbagai literatur di internet, danau toba terbentuk dari letusan gunung api super bernama gunung toba. Gunung ini beberapa kali meletus, sampai akhirnya terjadi letusan terdahsyat sekitar 74.000 tahun lalu. Dampak dari letusan ini sangat luar biasa. Abu vulkaniknya sampai ke kutub utara dan sekitar 60% makhluk hidup di bumi musnah kala itu. Efek letusan tersebut membuat sebuah kaldera besar. Kaldera itu terus menerus terisi oleh air dan jadilah danau toba. Magma aktif mengangkat tanah ke atas sehingga membentuk pulau yang kita kenal dengan nama pulau samosir. 

tongging sumut


Masyarakat sekitar juga memiliki versi sendiri terkait dengan proses pembentukan danau toba. Jaman dulu, terdapat seorang petani bernama Toba. Suatu ketika, Toba pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Beruntungnya Toba hari itu, dia mendapatkan seekor ikan mas berukuran besar. Ikan itu ia bawa pulang. Alangkah terkejutnya Toba ketika mendapati ikan yang ia tangkap berubah menjadi seorang wanita. Lalu, mereka menikah dengan syarat, Toba tidak boleh mengatakan kepada siapapun bahwa wanita tersebut berasal dari ikan. Mereka akhirnya dikaruniai seorang anak lelaki yang mereka beri nama Samosir. Suatu ketika, Toba marah besar karena Samosir telah memakan habis bekal makan siangnya. Dengan penuh emosi, Toba memarahi Samosir dan berkata "dasar kau anak ikan". Samosir menangis dan menceritakan kepada ibunya perihal kemarahan ayahnya. Ibunya lalu menyuruh Samosir menuju bukit tertinggi. Lalu terjadilah hujan besar yang menyebabkan banjir dan akhirnya menenggelamkan desa tempat Toba tinggal. Daerah yang telah terisi air itulah yang menjadi danau toba. Sedangkan bukit tertinggi yang didaki oleh Samosir, itulah pulau samosir.

Balige, Awal Rasa Takjub

Kuperlambat laju mobilku saat sampai di Balige. Rasa takjub saat pertama kali melihat danau toba perlahan melemahkan tekanan di pedal gas. Indah banget. Danau toba yang waktu kecil hanya kukenal lewat buku-buku pelajaran, kini kusapa langsung. 

balige sumatera utara

Aku suka barisan pohon pinus yang terlihat rapi di perbukitan di tepian danau toba.  Warna pinusnya tak hanya hijau, tapi juga kemerahan.


Jangan lupa saksikan petulanganku menjelajah Danau Toba dan Pulau Samosir di Youtube Channel "Traveler Paruh Waktu"


Parapat, Salah Satu Gerbang Menuju Pulau Samosir

Selanjutnya aku tiba di Parapat. Kota ini merupakan salah satu pintu gerbang menuju Pulau Samosir melalui pelabuhan Ajibata. Rasa ingin tahu membawaku ke pelabuhan itu. Siang itu suasana cukup sepi. Kapal telah bertolak menuju samosir beberapa saat sebelumnya. Hanya ada beberapa penjual, beberapa pengunjung, dan anak-anak kecil yang sedang memancing. 

parapat danau toba





Joran pancing salah satu anak bergerak, dia bergegas menarik kailnya dengan cepat. Wajahnya tampak sumringah, mungkin terbayang ikan pertama yang akan dia peroleh siang itu. . "Ah sial, ternyata daun" umpatnya. Aku terkekeh melihat kesialannya.

Anak-anak itu masih sibuk memancing kala aku meninggakan pelabuhan ajibata. Jalanan berada tepat di pinggir jurang dengan pemandangan danau toba dan perbukitan indah di sekitarnya. Yang paling menarik di sini adalah, banyak sekali gerombolan monyet ekor panjang/long-tailed macaque (macaca fascicularis) dan  gerombolan beruk/pig-tailed macaque (macaca nemestrina) yang mengemis makanan kepada lalu lalang kendaraan. 

Beruk jantan terlihat lebih maskulin dibanding monyet ekor panjang. Wajahnya lebih tampan dan kharismatik. Badannya lebih besar dengan lekukan otot lengan yang kekar, bahkan bisa seukuran lengan manusia dewasa. Dan gestur tubuhnya seperti menunjukkan kalau mereka adalah spesies monyet yang lebih superior dibandingkan tetangganya.

Desa Tongging, Spot Favorit Menikmati Keindahan Danau Toba dan Air Terjun Sipiso-piso

2 hari jelajah Kota Medan telah dilalui. Sekarang saatnya menuju Pulau Samosir.

Kami tiba di Kota Berastagi saat hampir petang. Berastagi ini sebenarnya banyak tempat wisata, tetapi waktu yang singkat memaksa kami hanya menumpang tidur di kota ini. Sebuah penginapan sederhana menjadi tempat peristirahatan kami malam itu. Kami ambil tarif terendah seharga Rp200k. Kamarnya bau, sampai-sampai aku harus  menyemprotkan parfum ke beberapa sudutnya. Sarapan tersedia, tetapi terlambat dari waktu yang telah dijanjikan di awal.

Tak berapa lama perjalanan, kami sampai di Desa Tongging. Tujuan pertama kami hari itu adalah titik pandang danau toba dan air terjun sipiso-piso. Seketika takjub saat melihat indahnya danau toba di sebelah kiri dan tingginya air terjun sipiso-piso di sebelah kanannya. 

tongging danau toba


Yang paling kusuka dari danau toba ini adalah perbukitan di sekitarnya yang hijau bak dilapisi karpet. Bukit tersebut ditumbuhi pepohonan pinus tapi enggak rapat. Terlihat pinus-pinus itu tumbuh berjauhan di lereng bukit yang hijau oleh rerumputan. Hal tersebut menciptakan visual serasa bukan di Indonesia, atau minimal serasa bukan di Sumatera. Karena pada umumnya pepohonan di hutan-hutan sumatera itu rapat. Sama seperti di Balige, pohon pinus di sini selain berwarna hijau, sebagian kecilnya berwarna kemerahan. Ternyata pepohonan berwarna kemerahan itu bekas terbakar. Tapi syukurlah sudah mulai tumbuh tunas-tunas baru berwarna kehijauan.

air terjun sipisopiso tongging



Air terjun sipiso-piso setinggi 120 meter ini merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia. Alirannya terlihat sangat deras. Tempias airnya terlihat jelas walaupun kita melihat jauh dari ketinggian. Cahaya mentari yang menabrak butir-butir air di dasar air terjun membentuk pelangi kecil yang cantik. Sebenarnya aku ingin menuju ke bagian bawah air terjun, tapi 1.000 anak tangga yang harus dilalui membuatku malas melaluinya. Jalan-jalan kali ini lagi malas capek-capekan hehe..


danau toba tongging



Di ujung bawah, terlihat sebuah desa kecil di pinggiran danau toba. "Mungkin itu desa tonggingnya", gumamku. Rasa penasaran akhirnya membawaku menuju desa Tongging. Dan ternyata, dalam perjalanan menuju desa Tongging, alam yang cantik tak henti-hentinya memanjakan mata. Air terjun sipiso-piso pun dapat terlihat dari jalanan ini. Kami berhenti sejenak di tengah perjalanan, sekedar untuk menikmati cantiknya kaldera toba. Angin sepoi-sepoi dan beberapa ekor elang yang terbang lalu-lalang menemani kami pagi itu. Ah, sungguh indah banget pemandangan yang tersaji di depan mata kala itu..

foto tongging danau toba


Pemandangan danau toba dari sini menjadi favoritku dibanding tempat-tempat lainnya, walaupun di tempat lain juga luar biasa mengagumkan
Kami lanjutkan perjalanan menuju Samosir.. Tak jauh dari air terjun sipiso-piso, terdapat taman bunga sapo juma. Taman bunganya terlihat cantik dengan berbagai jenis bunga berwarna-warni. Kami berhenti sebentar untuk berfoto, tanpa menjelajah lebih jauh. Oya, kami juga melewati jembatan sungai kecil yang sepertinya adalah aliran sungai yang jatuh ke air terjun sipiso-piso.


taman bunga sapo juma tongging danau toba


Beberapa kilometer berikutnya, terdapat spot menarik lainnya untuk menikmati danau toba, yakni gajah bukit gajah bobok. Gambar-gambar di internet sebenernya cukup menggoda, tetapi karena pikiran ini udah terbayang samosir, kami pun urung untuk singgah. Lagipula, takut kesorean sampai ke samosir kalau terlalu banyak singgah.

perbukitan di danau toba


Tele, Kelokan Berbahaya Nan Mematikan Namun Cantik

Jam makan siang telah tiba, kami berhenti sejenak di batas kota Sidikalang. Sebentar lagi kami akan melewati tikungan-tikungan ekstrim di Tele. Perut tak boleh kosong supaya konsentrasi bisa terus terjaga. 

Samosir sudah dekat, sekarang kami harus menaklukan tikungan-tikungan maut tele. Di satu sisi berbatasan dengan tebing, di sisi satunya berbatasan langsung dengan jurang yang terjal. Jalanan sudah termasuk bagus, tapi konsentrasi dan klakson harus selalu standby. Apalagi, jalan kecil ini juga dilewati truk-truk besar. 

Ada perasaan dejavu saat melibas satu demi satu tikungan tele ini. Ya, tikungan tele mengingatkan kelok 44 di Sumatera Barat, ditambah lagi dengan gerombolan monyet ekor panjang di beberapa titiknya. Tikungannya tak sepatah kelok 44, tetapi jurangnya lebih terjal dan berbahaya.

Menara Pandang Tele, Luar Biasanya Viewnya


Sore telah menyambut, hari hampir gelap. Samosir tinggal selemparan batu lagi, ingin rasanya cepat-cepat sampai. Tapi, haram hukumnya kalau lewat tele tanpa mampir ke menara pandang tele. Mobil kuparkirkan, tapi Ayu menolak untuk turun, sepertinya dia udah lelah. 

menara pandang tele samosir


Aku pun bergegas menuju lantai tertinggi, sebelum langit semakin redup. Pemandangannya?? Tentu indah banget. Kita bisa melihat gundukan bukit hijau, lekukan danau, lembah, jejeran pohon pinus, dan disempurnakan dengan 2 air terjun yang tinggi yang masih terlihat jelas dari kejauhan. 

menara pandang tele



Tiba-tiba langit menggelap, dan gerimis turun. "Ah, lagi enak-enaknya liatin pemandangan, malah hujan".. Aku segera kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Samosir. Tak berapa lama, kami sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan Sumatera dengan Samosir. Sumatera dan samosir sebenarnya adalah daratan yang sama, dan yang memisahkannya adalah sebuah kanal yang dibangun awal tahun 1900an. Kanal tersebut menjadikan Samosir yang awalnya semenanjung, menjadi sebuah pulau.

Panatapan Bakkara


Selepas mengunjungi Samosir, kini saatnya kembali menuju Kota Padang. Awalnya kurencanakan menyeberang ke pelabuhan Ajibata di Parapat dari pelabuhan Tomok di Samosir. Tapi, keinginan menjelajah danau diatas danau membuatku harus kembali menuju Pangururan. Kalau udah sampai sini, gak akan keburu kalau mengejar kapal.

Setelah melewati tanjakan Tele, tak lama kemudian sampailah di Dolok Sanggul. Di kota ini banyak yang menjual daging kuda. Aku penasaran, dan mencoba seporsi nasi dengan rendang daging kuda sebagai lauknya. Rasanya? Lidahku tak mampu membedakan daging kuda dengan daging sapi, sepertinya sama aja rasanya.

bakkara humbahas




Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. "Ah sial, sebentar lagi gelap, sedangkan masih ada 1 destinasi lagi yang ingin kukunjungi". Kulajukan kendaraan dengan cukup kencang, melewati jalan kecil dan kelokan. Tak sampai setengah jam, sampailah di Penatapan Bakkara. Pemandangan yang ditawarkan adalah panorama danau toba dengan lembah dan persawahan Bakkara, dan 2 buah bukit yang mengapitnya. Tak ketinggalan jejeran pohon pinus yang terlihat jarang, yang sudah mencari ciri khas danau toba di bagian manapun kita berhenti.

See You

Matahari telah terusir, gelap pun datang, dibarengi dengan serangan nyamuk yang mulai menghampiri secara bertubi-tubi. Dengan datangnya malam, berakhir pula petualanganku menjelajah danau toba selama 2 hari. Banyak sekali kesan indah yang tersimpan tentang danau ini. Sebuah danau cantik yang dulu kukenal lewat buku-buku pelajaran semasa SD. Sebuah danau cantik yang menurutku tercantik dari beberapa danau yang pernah kukunjungi di Indonesia. Sebuah danau cantik, yang erat kaitannya dengan sejarah masyarakat batak.

Sekitar 3/4 bagian tepian danau telah kujelajahi, masih ada 1/4 lagi, yaitu dari Parapat menuju Tongging. Artinya, masih ada urusan yang belum selesai, masih ada rasa penasaran yang menggelayut, masih ada hasrat untuk kembali. Hey, tunggu aku kembali ke sana, Tao Toba. Horas!!!!

wisata bakkara



----------------------
Traveler Paruh Waktu
Berkunjung Oktober 2018














Hello, i am Bara, an officer who loves traveling. I write all of my travel experiences in this blog. If you want to collaborate with me, please send me message to travelerparuhwaktu@gmail.com , :)

Previous
Next Post »

36 komentar

  1. Aku juga hapalnya yang dongeng anak ikan itu heheh btw dari tongging viewnya kece mang.. pernah nginep yang di simalem resort ituu

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah simalem resort aku skip.. gak ckup waktunya kalau kebanyakan tempat yg didatengin wkwk..

      Hapus
  2. bangga jadi indonesia,bnyak tempat wisataa,

    BalasHapus
  3. Hueeeee

    Walau udah liat bocorannya di Instagram, tetep aja pas liat lagi jadi amazed lagi

    Indah banget sihhhh dmei apa -___-
    So dreamyy

    Kayak wallpaper desktop komputerrr

    Pengen banget suatu hari bisa ke sana jugaaa huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. danau toba ini emang tak henti2nya bikin kita terpana..

      Hapus
  4. Tele aku belum pernah malah mas :). Kemarin itu udah diajak, ama sepupu liatnya dr tele. Tp hujan truusss, makanya batal. Adekku ga berani juga bawa mobil lwt jalanan tele yg begitu kalo lg hujan.

    Next kesana hrs pas musim kemarau sepertinya :) . Tapi danau toba memang cantik banget. Asisten2 ku yg aku ajak, sampe seneeeeng banget liat danau toba ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa,, semoga kesampean lewat tele pas lagi cerah2nya.. disini pemandangannya kece bnget juga kok.. yg penting fokus aja nyetirnya hehe

      Hapus
  5. jadi ingat berita kapal tenggelam beberapa bulan lalu~ :(

    BalasHapus
  6. Awalnya Sumatera Utara menjadi destinasi tujuanku, termasuk ke Toba. Tapi akhir tahun ini malah mendaratnya di Sumatera Barat. Mungkin tidak dalam waktu dekat datang ke sini, kecuali nanti kalau ada undangan hehehehe

    BalasHapus
  7. Danau Toba ini memang luar biasa indahnya, bro. Waktu itu gue naik bus dari Bandara Silangit. Pas bus lewat di samping danau tuh, waaa cakep bangeeettt! Sayang waktu itu gue sibuk dengan pekerjaan, jadi nggak eksplor Danau Toba :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti waktu itu lewat doang ya bro? next time kalau ke Sumut lagi harus explore nih..

      Hapus
  8. Setelah main ke Danau Ranau di Sumsel atau Danau Lut Tawar di Takengon, aku masih penasaran sama Toba. Secara femes banget ya kan haha. Keluarga udah ke sini, eh akunya gak ikut. Pengen berenang kalo boleh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah keduluan sama keluarga malah hehe.. aku thn 2019 malah mau ke danau ranau awalnya, tapi kayanya batal, batal mudik ke rumah mertua di Lampung..

      Hapus
  9. wah perjalanan yang memukau bang. Mantap

    BalasHapus
  10. Beruk jantan terlihat lebih maskulin dibanding monyet ekor panjang. Wajahnya lebih tampan dan kharismatik.. wah aku sampe sekarang gak bisa kegantengan monyet hahahaha. Btw, danau Toba itu udah pernah aku rencanain banget buat dikunjungi pas nikahannya temenku ternyata dia nikah akhir tahun ini. Akhirnya rencana batal.. musti agendakan lagi nih. Kecantikan Toba menyihir untuk didatangi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha,,, ya pokoknya lebih macho aja itu si beruk :V ...

      wah harus tuh mas diagendakan lagi ..

      Hapus
  11. Rendang daging kuda. Kayaknya hanya ada di Sumut ya. Jadi gak ada beda antara daging kuda dan sapi kalau gitu. Pengen juga deh suatu saat nyobain :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalau di lidahku sih sama aja rasanya.. ahaha.. sejauh ini aku juga baru nemuin olahan masakan daging kuda di sumut doang..

      Hapus
  12. Wah air terjunya manteb tenan mas :D
    ada danau, air terjun, hamparan perbukitan yang hijau dan bertabur bunga-bunga.. cocok banget kalau mau melancong kesini .. Hehehe..
    Semoga kapan kapan bisa kesana.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang lengkap banget danau toba ini.. paket komplit :D

      Hapus
  13. pemandangan Indonesia dimana-mana khas banget ya. btw, penulisannya bagus, jadi pengen belajar lebih banyak XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi,, thank you.. ini pun masih belajar nulis kok.. yuk semangat kita belajar nulisnya..

      Hapus
  14. Itu fotonya Ayu pas banget komposisi warna(baju dan bunga)nya. coba ada foto tikungan-tikungan yang menuju Tele, Ku kepo karena tempo hari pas lewat udah malem dan tidur aja. Diceritain seremnya pas udah lewat, alhamdulillah. oiya kepo juga sama rendang Kudanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau diceritain orang sih emang serem katanya.. tapi pas melalui sendiri sebenernya ga serem2 amat sih..

      Sama aja kaya rendang sapi.. Enakan rendang padang kok haha..

      Hapus
    2. mantap lah, maen ke Padang masakin rendang ya haha

      Hapus
    3. ya datang dulu dong, kisanak...

      Hapus
  15. Aku membaca artikel ini sambil berdebar-debar ahahahaha. Aku tu jatuh cinta dengan Toba sejak kecil, lihat foto-fotonya, banyak baca ceritanya, terus terakhir baca Serial Supernova yang Gelombang. Settingnya Dolok Sanggul. Duh, makin pengen ke tempat ini. Cantiknya kebangetan ini sih. Semoga suatu saat bisa menjejak dan menjelajah Toba. Seminggu pun rasanya belum cukup deh, pengen ngrasain tinggal di daerah-daerah tepiannnya barang semalam dua malam ahahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pun penasaran sejak kecil.. udah familiar bgt dari buku-buku pelajaran.. emang cantik bgt.. aku pun harus kembali kesana supaya lebih puas.. kemarin terlalu diburu2 waktu..

      Hapus
  16. Semua foto pemandangannya cakep, bro! Puas banget ya eksplor Danau Toba dari satu sudut ke sudut lainnya.
    Waduh, hotelnya merusak mood tuh. Kalo aku udah bakal ganti kayaknya, hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena cuma numpang tidur selama beberapa jam aja,, jadinya biarin aja haha,, malah sebenernya lebih enak tidur di mobil, tinggal cari pom bensin wkwk..

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...