Kabur dari Hikuk Pikuk Jakarta ke Taman Wisata Alam Mangrove PIK



Hidup di Jakarta, artinya harus siap berjibaku dengan segala hiruk pikuk kota besar. Macet, polusi, gedung bertingkat, dan hal-hal lain yang tak membuat pikiran tenang. Ya, semua itu harus kembali menjadi pemandanganku sehari-hari dalam kurun waktu 2 tahun (2014 - 2015). Aku kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan, setelah sebelumnya tinggal selama 2 tahun (2011 - 2013) di salah satu surga terindah di Indonesia, Nusa Tenggara Timur. 


Kerinduan akan wisata alam kerap menghampiri selama 2 tahun kembali ke ibukota. Kalau dulu waktu tinggal di Kupang mau ke "surga" tinggal melipir beberapa menit saja dari kos. Selain itu juga bisa memanfaatkan waktu luang tiap kali penugasang ke Sumba, Rote, Flores, Alor, dan Lembata. Nah, 2 tahun di Jakarta ini semua terasa sulit, butuh waktu banyak dan biaya yang tak sedikit pula. Dalam kurun waktu tersebut, hanya beberapa  kali saja aku bisa traveling ke luar Jakarta. Itu pun beberapa di antaranya karena ada kerjaan sampingan yang mengharuskanku sejenak meninggalkan ibu kota. 2014, aku berkunjung ke kebun teh kaligua (Jateng), dan berkunjung kembali ke Sumba (NTT). 2015, aku berkunjung ke Bromo (Jatim), berkunjung kembali ke Kupang dan Pulau Rote (NTT), Muara Bulian (Jambi), Lombok (NTB), Telaga Warna (Puncak Bogor) dan Ranto Canyon yang berada di kampung halamanku (Jateng). 
Namun, ada juga 2 lokasi wisata alam di Jakarta yang aku kunjungi. Memangnya ada wisata alam di Jakarta? Ada dong. Tahun 2014 aku berkunjung ke Pulau Pari di Kepulauan Seribu. Masih kejauhan karena harus naik kapal? Oke.. Tahun 2015 aku berkunjung ke Taman Wisata Alam Mangrove di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Deket kan?? Masih di daratan Jakarta lho.. Nah, bagi kalian Jakartans yang ingin menikmati udara segar di Kota Jakarta, Hutan Mangrove PIK ini merupakan pilihan tepat. Hemat waktu dan hemat biaya untuk mendatanginya.

Taman Wisata Alam Mangrove PIK

Akhir pekan kembali menyapa. Ini bulan September, mendekati akhir tahun. Artinya, sebentar lagi aku akan menyudahi perkuliahan dan kembali bergelut dengan dunia kerja. Dan kota berikutnya yang akan menjadi tempat petualanganku belum terlihat hilalnya. Mungkin saja aku akan ditempatkan di kantor pusat di Jakarta, atau nasib akan membawaku ke tempat baru.

Melawan ketidakpastian, aku pun harus segera mencoret Hutan Mangrove PIK dalam bucket list tempat yang ingin kukunjungi. Hari itu aku berangkat bersama Ayu dan ketiga orang kawan, Uchie, Guguh, dan Maya.

Tol yang kami lewati dari Cempaka Putih menuju PIK cukup lengang. Tanpa kesulitan, kami sampai di tempat parkir Taman Wisata Alam Mangrove PIK. Semua berkat adanya teknologi GPS, padahal tak seorang pun dari kami yang pernah ke tempat ini sebelumnya.

Sebelum memasuki kawasan hutan mangrove, setiap wisatawan dikenakan biaya karcis Rp25.000. Mahal? iya sih, yah namanya juga di Jakarta. Tapi gak seberapa lho dibandingkan wisatawan mancanegara yang ingin berkunjung, tarifnya Rp250.000, atau 10x lipat dari tarif wisatawan lokal. Baru kali ini lihat perbedaan tiket antara turis lokal dengan turis mancanegara sebegitu jauh gapnya.

Di dekat loket juga terdapat tulisan mengenai larangan membawa DSLR. Jika bawa diam-diam dan ketahuan, ancamannya denda 1 juta,, gilee.. Mirrorless pun urung kubuka walaupun sudah kubawa di tas. Entah apakah mirrorless dianggap sama seperti DSLR atau enggak, tapi tetep saja ada perasaan takut kalau memakainya di dalam area hutan bakau ini. Takutnya tetep kena sanksi, jadi yaudah lah foto-foto pake kamera handphone aja..

taman wisata alam mangrove PIK

Begitu memasuki kawasan hutan mangrove ini, udara segar langsung terasa. Kanan kiri depan belakang semua hijau pepohonan. Beda banget dengan Jakarta pada umumnya yang isinya beton. Semakin menjauhi loket, semakin angin berhembus manja menerpa kulit. Wah, berasa jalan-jalan jauh keluar Jakarta. Suasananya masih asri dan hijau. Ternyata ada hal yang kaya gini di Jakarta.

watch your step
Kami belok ke arah kiri menuju jembatan kayu di atas rawa-rawa yang dipenuhi pohon bakau. Lokasi ini lah yang menjadi daya tarik utama dan favorit para pengunjung. Berfoto di atas jembatan kayu yang di tepiannya terdapat vila-vila unik yang juga terbuat dari kayu. Pokoknya instagram-able deh.

Berhati-hati adalah hal wajib diperhatikan saat berjalan di atas jembatan kayu ini karena terkadang ada rongga yang cukup besar. Buat para wanita yang datang ke sini, sebaiknya pakailah flat shoes yang nyaman.

Banyak sekali bakau di sini, berbagai ukuran. Ada yang berukuran besar, ada juga yang baru ditanam. Beberapa nama perusahaan dan instansi yang turut berpartisipasi menanam bakau ini terpampang di sebelah bakau-bakau yang usianya masih muda, termasuk salah satunya ada instansi tempatku mencari rejeki dan mengabdi kepada negara..

bakaunya BPKP

Selain menjadi wahana wisata alam, keberadaan bakau tentu sangat berguna untuk daerah pesisir pantai. Fungsi utama pohon bakau yaitu untuk memecah gelombang laut sehingga dapat mencegah terjadinya abrasi. 


Bagi kalian yang ingin menikmati hutan bakau dengan cara lain, kalian bisa menyewa perahu mesin yang berisi 6 sampai 8 orang dengan tarif Rp250.000 - Rp350.000. Dengan perahu ini kalian bisa menjangkau ke spot-spot yang lebih sepi pengunjung. Mau lebih kece?? Sewa kano aja, dayung lah kemana kalian mau. 

 

Jika beruntung, kalian dapat melihat keragaman fauna yang hidup di kawasan rawa ini, seperti misalnya biawak dan aneka jenis burung laut. Terkadang muncul juga biawak tanpa ekor yang sepertinya sudah tidak takut dengan keberadaan manusia. Biawak ini berukuran besar, tapi entah apa yang menyebabkan ekornya terputus. Mungkin dia kehilangan ekornya sejak kecil. Padahal, ekor biawak merupakan alat yang sangat vital untuk berenang dan membela diri. Beberapa biawak lain kadang terlihat tapi akan kabur begitu sadar ada manusia yang memperhatikannya. 

biawak buntung
Masih di dalam taman ini, terdapat juga taman kelinci dan beberapa ekor monyet yang dikurung dalam kandang. Kasihan, akan lebih menarik kalau monyet-monyet itu terlihat bergelantungan di pohon-pohon bakau.

Matahari mulai menjauh untuk menerangi bagian bumi lainnya. Kulangkahkan kaki menjauhi biawak-biawak liar, menjauhi monyet-monyet yang tampak tak berbahagia, menjauhi burung-burung laut yang mungkin akan segera menuju peraduan, menjauhi bakau-bakau kokoh sang pemecah ombak.

Taman wisata alam mangrove PIK ini sedikit mengobati kerinduanku akan indahnya alam. Sebelum pulang, sejenak kami mampir ke cafe-cafe yang menjual makanan dan minuman berparas cute yang tak jauh dari hutan mangrove..

cake-a-boo


Tahun berganti, dan SK mutasi kerja telah diterbitkan. Bersyukur, SK membawaku ke surga alam lainnya, Sumatera Barat. Menuju "surga" akan semudah saat dulu tinggal di Nusa Tenggara Timur.. Bye-bye Jakarta...



-------------
*Berkunjung September 2015
-Traveler Paruh  Waktu-
Previous
Next Post »

95 komentar

  1. Cakep ya, daerah pesisir gitu, eksotis.
    Btw, dendanya mahal bener ya kalo pake DSLR, sampe 1jt.

    BalasHapus
  2. Sampai sekarang di PIK juga nggak boleh bawa kamera. Kamera, ya. Jadi semua kamera tanpa kecuali. Hanya handphone yang boleh dipakai. Untungnya sih, kalau bawanya Apple atau Samsung keluaran terbaru, kameranya nggak kalah ama kamera beneran yang standar. *Ehem*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya handphone jaman sekarang kameranya udah canggih2 euy,, tapi sayang kamera hpku masih teknologi jaman old haha..

      Hapus
  3. keren banget ya hutan mangrovenya bisa dibuat sampai seperti itu, yang membuat para wisatawan betah pastinya
    semoga pengelolaan hutan mangrove di tempat tempat lain bisa mencontoh tempat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa,, selain indah, kalau dibikin begini biasanya kawasan hutannya pun lebih terjaga kelestariannya..

      Hapus
  4. Selamat menikmati alam di perantauan mas, Jakarta merindukanmu... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi aku tidak merindukan jakarta hahaha

      Hapus
  5. Nah kemarin temenku mau post tulisan tentang Wisata Mangrove PIK ini tapi ya itu dia moto-moto pake kamera hape.. aku keberatan kalau foo diblog pake kamera hape jadi sampe sekarang gak tayang.. emang dilarang sepenuhnya pake DSLR atau harus bayar lagi sih? Gak maksimal soale kalo gak moto pake sensor kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau gak salah kayanya boleh deh mas bawa kamera,, asaaaaal, ijin ke pengelolanya,, itu gak tau deh harus bayar lagi atau enggak dan prosedurnya pegimane..

      Hapus
  6. Seumur-umur di Jakarta malah belum pernah ke sini. Abis ilfeel sama peraturan dilarang bawa kamera :D
    Kalau ke sini emang enaknya sore menjelang sunset ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyesek emang peraturannya kok aneh bgt yaa -____-...

      Waktu itu juga disana sampe sore sih, tapi belum pas menjelang sunset bgt jadi gak tau indahnya gmna pas sunset hehe

      Hapus
  7. Mangrove sekarang menjadi destinasi wisata alternatif. Tinggal bagaimana kita mengedukasi ke masyarakat tentang fungsi mangrove.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget sob.. kalau dari masyarakatnya sendiri udah ada kesadaran,, pasti akan lebih baik..

      Hapus
  8. Ahhh nemu biawaknyaa..
    Saya pas kesana gak ketemu biawaknya euy.. mugkin karena bareng teman2 segeng yg pada heboh foto2 jadinya berisij deh.
    Tapi tempat ini emang bagus banget buat belajar soal konservasi pantai deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha,, mungkin.. biawaknya males rusuh mending ngumpet wkwk

      Hapus
  9. Ahhh nemu biawaknyaa..
    Saya pas kesana gak ketemu biawaknya euy.. mugkin karena bareng teman2 segeng yg pada heboh foto2 jadinya berisij deh.
    Tapi tempat ini emang bagus banget buat belajar soal konservasi pantai deh.

    BalasHapus
  10. Itu yang make DSLR emank dendanya bikin meringis, tapi untung sekarang kamera HP juga tak kalah apik dan bahkan bagus-bagus juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa,, sayang hpku masih berkamera teknologi lama haha

      Hapus
  11. Ah, saia malah belum pernah ke Mangrove PIK, padahal sudah setahun lebih jadi penghuni belantara Jakarta ;p

    BalasHapus
  12. Tempat enak buat menikmati alam :p

    BalasHapus
  13. Ajakin aku jalan-jalaaan, ke indonesia bagian timur mas :( ada kenangan yg tertinggal di sana, eh udah malah curhat. Hahahah
    Baru tau aku, kl di jkt juga ada mangrovenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuylah,, jalan-jalan ke Indonesia bagian timur kita hiihi..

      ada dooong.. Jakarta mah serba ada yekaaan..

      Hapus
  14. PIK aku jadi ineget pembantaian 1998, okeee
    gila dendanya, hmmm gitu banget ya hahaha
    tapi emang bagus sih
    apalagi ada rumah-rumahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pengelolaan dan penataannya kece.. sayang dendanya itu gak manusiawi wkwk..

      Hapus
  15. Keren ya bentuk villanya ... berdiri berderet menghadap rawa.

    Itu kenapa sih bawa kamera dslr kok dendamya segitu mahalnya yaa ? .
    Apa takut hasil fotonya dikomersialin kali ya 🤔

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak tau juga deh,, emang aneh banget ya aturannya. baru kali ini nemu yang begitu..

      Hapus
    2. Iya, rada kaget aku bacanya.
      Kalo larangan penggunaan drone di suatu lokasi, aku pernah nemuin.
      Tapi kalo denda gunain kamera dslr baru kali ini.

      Hapus
    3. wah dimana tuh ada larangan drone??? baru tau juga malah

      Hapus
    4. Di Taman Sari Water Castle Yogyakarta, mas. Disana jelas ada aturan tertulis terpampang larangan penggunaan drone.

      Hapus
    5. dendanya berapa tuh kalau ada yang tercyduk? :D

      Hapus
    6. Seingatku ada tambahan tulisan dibawah larangan penggunaan drone dengan kata seperti ini :

      , termasuk tindakan pidana.
      Akan diproses sesuai hukum yang berlaku.


      Ntar kapan aku ke Taman Sari lagi kufotokan penguman larangan penggunaan drone itu, mas.

      Hapus
  16. Kamu udah kesana dari 2015, dan aku aja yg di jkt belum pernah. Huaahahahaha... Bikin malu.. :D. Tapi mungkin yg bikin aku blm tertarik kesana, karena dulu pas masih tinggal di aceh utara, mangrove ini banyak bange sih mas, di stiap pantai di Lhokseumawe. Makanya aku biasa ngeliatnya :p. Walopun yg di sana ga dibikin sebagus ini sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. kamu mah jauh2 terus sih jalannya hihi.. Wah di Aceh banyak ya mangrove? Dulu pas ke Aceh ke pantai lampu'uk gak ada mangrove ya kayanya hehe

      Hapus
  17. Sedih banget ya sampe sekarang PIK ga ngebolehin bawa kamera DSLR. Alasannya apa coba -__-
    Tapi gapapasih, soalnya smartphone zaman sekarang kan udah keren-keren kak, hehehe.

    Revisit : Fajarwalker.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sedih euy.. keren2 sih,, tapi tetep fitur2nya gak selengkap dslr atau mirrorless...

      Hapus
  18. Dari dulu pengen banget ke sini. Tapi kok ya agak ribet kalau naik kendaraan umum. Jadinya ditunda terus. Apalagi setelah tahu kalau tiketnya lumayan 'mahal' dibandingkan dengan spot serupa di tempat lain yang tidak memungut biaya apapun. Yang paling disayangkan sih emang hewan yang dikerangkeng itu. Mungkin habit di kita yang belum bisa melihat hewan bebas dengan aman. Tapi, setidaknya, taman bakau PIK ini bisa dijadikan suaka bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya akan pentingnya bakau untuk daerah pesisir. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, enakan pake kendaraan pribadi emang kalau kesini.. Bener,, mayan ada sedikit hiburan alam buat para warga jakarta.

      Hapus
  19. kirain kabur dari kenyataan mas bara. Tempatnya keren dan asyik sepertinya, boleh juga jadi insprasi untuk jalan-jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, kalau dari kenyataan mah gak bisa kabur euy... iya asik dibanding jakarta pada umumnya hehe

      Hapus
  20. kenapa ga boleh pake kamera DSLR ya mas disitu?

    BalasHapus
  21. Dari dulu udah pengen banget kesini tapi maju mundur gara-gara ga boleh bawa kamera itu. Soalnya kamera hape kurang puas aja hehe..
    Baru tau juga disitu bisa naik perahu atau kano, kirain jalan-jalan doang liat hutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama,, kalau pake hp emang kurang puas potret2.. ini aja baru tau larangan itu setelah nyampe tempatnya.. -____-

      Hapus
  22. Tarif Rp25.000 menurutku masih murah untuk obyek wisata alami kayak gini, bro. Di Bandung, wisata-wisata artifisial juga harga tiketnya segitu, nggak worth the price buatku karena nggak menyuguhkan pengalaman baru. Sama-sama hutan pinus juga. Cuma emang harga tiket buat mancanegara dan larangan penggunaan DSLR itu sih yang nggak masuk akal.

    Aku pernah mau ke sini naik angkot tapi nyasar, hahaha. Jadi 2 tahun di Jakarta ini lu S2 bro?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebetulnya kalau untuk kelas jakarta emang murah sih,, tapi kalau dibandingin wisata serupa di tempat lain baru keliatan mahal hehe..

      belom S2 bro,, baru lanjut ke DIV dari DIII hehe..

      Hapus
  23. Keren banget ya... aku pernah sekali kesana... cuma lebih bagus sekrang keknya deh... udah ada rumah2an kek gitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. rumah2an gitu emang bikin lebih instagrammable dan menarik pengunjung anak2 muda..

      Hapus
  24. Sering ke jakarta dan diajak kesini tapi belum mau ke sini. Lagian jga males dengan larangan membawa kamera segala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga besok2 larangan itu dicabut,, kurang puas kalau foto pake hp doang..

      Hapus
  25. 2015 sudah ke PIK,, lah aku baru 2016 :D

    BalasHapus
  26. berkunjung ke PIK ini salah satu agenda yang belum terlaksana, soalnya jarak jauh dan aku sendirian. nanti jadi bengong aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapa tau dapet kenalan2 baru disana, sama pas waktu ko deddy kemana tuh di jakarta, yg dapet kenalan yekaaan? hehe

      Hapus
  27. Kalau berkunjung ke tempat yang ijo ijo gitu emang joss ya mas, bikin mata seger... apalagi kalau kita tinggalnya di tengah kota yang padatnya aduhai...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget. apalagi ini lokasi di Jakarta.. seperti oase di padang pasir..

      Hapus
  28. Sebagai bukan orang jakarta, juga jarang ke jakarta, baru tahu ada wisata alam yang lega. Asumsi sy dimana-mana pasti ramai dan padat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang surprise banget sih ada beginian di Jakarta ahaha

      Hapus
  29. Baru tau juga ada yang beginian di jakarta ya....
    Yang bikin heran, kenapa DSLR dilarang ya? Emang photo bisa membawa ekses negatif ya? #gagalpaham

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntahlah, peraturan yang sangat aneh dan bikin nyesek..

      Hapus
    2. Padahal kalau tidak ada peraturan seperti itu bisa membuat promosi gratis lho....sehingga orang orang akan lebih banyak datang

      Hapus
  30. Ini foto pas tahun 2015 berarti kan ya? Bakau nya masih kecil-kecil. Mungkin kalo sekarang udah lebih lebat dan lebih ijo pemandangannya.
    Beberapa kali dengar kepopuleran hutan bakau ini, tapi belum nyoba main-main kesana. Yah,, kalo nggak ada perlu banget dengan Jakarta aku juga milih untuk nggak ke Jakarta. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener lah, mending cari destinasi lain, ngapain ke jakarta ahaha..

      Hapus
  31. 2015 saya ke PIK.....tapi mungkin pintu masuknya yang beda atau gimana yah, soalnya ga nemu tuh rumah2 kayu begitu wkwkw. Dan kalo ga salah masuknya cuma 6k. Dan ga ada juga larangan bawa kamera DSLR. Entahlah.

    Saya juga kaget di beberapa tempat yang pernah dikunjungi, mengenai perbedaan harga lokal dan mancanegara. Kayak, ga adil aja. Lagian ga semua turis manca kaya kok meski kurs nya menang banyak. Tapi yaaa mungkin itulah strategi bisnis pariwisata. Toh waktu ke Thailand saya juga merasakan hal yg sama. Lokal kena 40 baht, manca kena 400 baht.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin karena beda bulan ya.. jangan2 pas aku kesana emang baru banget dibangun kali rumah2nya itu..

      waaaw di Thailand itu ternyata 10x lipat juga yaah.

      Hapus
  32. di tempat saya juga ada hutan mangrove, saya belum dikembangkan banyak seperti yang sudah ada disana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dikembangkan lebih gini pasti lebih cakep kaan...

      Hapus
  33. Wahhh pernah juga dulu kesana sama mantannn hhe, tempatnya asik seruu dah romantic :v (kalo sama pacar, kalo sama mantan jadi serem)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah sorry bikin nostalgia sama mantan hihi

      Hapus
  34. Gua juga hidup dikota besar beberapa tahun yang lalu, karena hiruk pikuk itulah gua pindah ke daerah pedesaan hehe

    BalasHapus
  35. Heeee, waiiiit? Di Jakarta ada mangrove-mangrovan giniii? ._. ku baru tau loh, suwer wgwgw

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi,, ada dooong,, jakarta gitu lho... :V

      Hapus
  36. Baru tau Jakarta punya tempat seperti ini. Perlu didatangi dan buat review tentang tempat ini juga sepertinya. Btw, itu villa-nya cuma hiasan atau bisa nginep juga kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. datangin dooong.. itu vilanya bisa disewa juga kok,, tapi tarifnya gk tau deh berapaan..

      Hapus
  37. Udah pernah kesini dan rada kaget karena dendanya yang mahal banget. HP udah kebeli pake dendanya tuh, hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak fotografer-i dendanya emang,, gila haha..

      Hapus
  38. Usually, I never comment on blogs but your article is so convincing that I never stop myself to say something about it. You’re doing a great job Man. Best article I have ever read

    Keep it up!

    BalasHapus
  39. Aku sudah lumayan sering denger cerita tentang mangrove disini,
    Tapi sampai sekarang belum sekalipun dateng kesana huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. dateng dong biar tau kalau di jakarta juga ada tmpt yg lumayan asri dan tenang hehe

      Hapus
  40. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  41. Wow! Itu harga turis 10x lipat nyesek banget ngga sih 😣
    Biasanya kalo harga turis lebih mahal paling cuma 2-3x lipat

    Take care,
    Rizuna from A Well-dressed Nerd

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa,, ini emang unik bgt,, awalnya mau ngajak temen bule kesini tp dia batal dan setelah tau selisihnya jauh, kayanya klo dia ikut kasian deh krna perbedaannya signifikan haha

      Hapus
  42. Wew.. Ada mangrove kayak gini pula ya ternyata di Jakarta...
    Kiarin sudah nggak ada lagi kawasan mangrove kayak gini..

    Emang biar mangrove ttp lestari sekaligus produktif, caranya adalah dijadiin obwis seperti ini..
    Semoga ada g pada nyampah pengunjungnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah kalau masalah sampah ini yang agak susah dihilangkan deh kalau di Indonesia.. syedih zainudin..

      Hapus
  43. Itu peraturan tentang kamera DSLR agak aneh menurutku, kan seharusnya klo fhoto2 bagus dan di share di media jadi semakin banyak pengunjung dan menambah penghasilan juga, hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu gak tau juga deh, apa pertimbangan mereka.. aku juga jadi males kesana lagi,, pake hp kurang oke hasil fotonya..

      Hapus
  44. beragam fauna termasuk Biawak itu...OMG aku agak trauma sama biawak, pernah waktu tinggal diperuamahan baru, ada biawak masuk rumah hahah.

    kalau berharap ketemu fauna di taman mangrove maunya ketemu berbagai macam burung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kalau ke hutan mangrove dipastikan akan ada biawaknya tuh, jgn takut dong ahaha..

      Hapus
  45. Kurang lebih udah 4 tahun tinggal di Jakarta, tapi belom kesampean juga buat mampir ke hutan Mangrove ini.

    Dan btw ngeliat harga tiket untuk turis asing mahal banget yah kak. Jadi inget jaman aku traveling di India yang harag tiket turis muahal banget. Aku merasakan perasaan bule bule saat berkunjung ke Indonesia :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Raisa mainnya keluar Jakarta terus sih ahaha, sesekali mainlah kesini hehe..

      Biar adil,, turis Indonesia juga harus ngerasain rasanya dimahalin di negeri orang hihi..

      Hapus
  46. Aku juga dulu waktu kesini bawa kamera, SLR pula, berat, dan ternyata ga aku pakai sama sekali, nyesek, harus puas foto2 sama hp

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngeselin emang yaa,, aturan yg aneh. -___-

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...